Sport – Skateboard BMX Competition ProMild

Beberapa waktu lalu tepatnya di bulan mei, ada sebuah event kompetisi olahraga BMX dan Skateboard di kota saya. Sebagai seorang yang ngefans dengan Dave Black, seorang sport photografer dan salah satu ambassador Nikon, saya tertarik sekali untuk mencoba mengambil beberapa foto. Sebenarnya sudah niat dari lama tapi selalu ketinggalan berita kalau ada event-event olahraga begini, apalagi di Indonesia jarang sekali ada event seperti ini.

Oke jadi ceritanya setelah saya dapat info tentang event itu saya langsung mencari-cari referensi terlebih dahulu tetang teknik-teknik sport photography. Beberapa ilmu yang saya dapat adalah :

  • No Chimping, chimping adalah fotografer yang sukanya melihat hasil setelah melakukan jepretan, jadi jepret lihat hasil, jepret lihat hasil. Come on don’t do this man, you gonna miss the moment. Terlebih lagi ketika foto olahraga seperti ini, momennya itu cepet banget kalau menghabiskan waktu untuk melihat kamera terus bakal kehilangan banyak momen.
  • Pakai Burst. Ya pakai mode burst. Jadi misal ketika ada salah satu skateboarder melakukan trick langsung saja jepret berkali-kali, nanti tinggal pilih mana yang bagus. Sebenarnya untuk poin ini masih jadi perbedatan. Beberapa ada yang mendukung karena jika mengambil banyak foto maka peluang kita untuk dapat foto bagus akan lebih banyak. Beberapa yang kurang mendukung, mereka mengatakan menggunakan burst membuat fotografer jadi kehilangan insting untuk mendapatkan foto bagus, jadi lebih baik berlatih foto hanya 1-2 agar insting itu terasah. Apa lagi di era digital sekarang fotografer tidak pernah memikirkan masalah kapasitas seperti jaman film dulu, fotografer pingin jepret tinggal jepret jepret, makannya beberapa fotografer pro merasa insting itu sudah jarang sekarang. Well, saya rasa 2 2nya ada benarnya tinggal tentukan mana yang lebih cocok dengan kita.
  • Lebih baik JPG dari pada RAW. Poin ini berkaitan dengan poin di atas jika kalian cocok dengan menggunakan burst maka ada baiknya pakai JPG karena akan lebih meningkatkan fps dari kamera. Raw memiliki file yang lebih besar yang berakibat bertambahnya waktu untuk menyimpan data ke SD Card sehingga dapat mengurangi fps dari kamera. Jadi ada baiknya pakai JPG agar fps bisa lebih cepat. Dan juga JPG menghasilkan file yang lebih kecil jadi SD Card tidak akan cepat penuh kalau kita pakai burst.
  • Pakai wide lens dari pada tele. Seriously?! Wide lens? Itu yang pertama saya pikirkan. Saya mencoba merenungi dan membuka beberapa contoh foto sport. Ternyata wide lens memang memberikan suasana yang fresh dan lebih terkesan extrem di foto sport. Tapi menggunakan wide lens juga harus melihat kondisi dan situasi. Selama fotografer bisa berada dekat dengan objek wide lens ini bisa dipakai, tapi jika tidak jangan dipaksakan. Misal foto sepak bola, jangan sampai kita masuk sampai ke tengah-tengah lapangan hanya demi mendapatkan foto bagus dengan wide lens.

 

Dari beberapa referensi itu saya putuskan untuk mempraktekkan semua di medan perang. No chimping, pakai burst, pakai JPG, dan wide lens. Sebenarnya keputusan terberat saya adalah memutuskan antara menggunakan JPG atau Raw, karena saya adalah orang yang sangat suka mengedit foto saya cenderung suka pakai Raw karena editannya tidak akan terlalu merusak gambar. Akhirnya saya memutuskan menggunakan JPG adalah karena di poin no 2 tentang insting fotografi. Saya merasa saya pakai burst sudah mengurangi insting, masak mau pakai raw juga yang butuh edit-edit setelah foto, seharunya kalau insting bagus foto JPG tanpa di edit-edit juga sudah bagus. Maka dari itu saya putuskan untuk pakai JPG.

Dan inilah beberapa hasilnya…

 

Dari mempraktekkan referensi yang saya dapat di event itu saya mendapat banyak pelajaran. Saya akan mereview dari masing-masing poin.

  • No Chimping. Sebenarnya saya tidak mendapatkan banyak foto bagus karena mempraktekkan poin ini. Bukan no chimpingnya yang salah tapi saya yang teledor. Saya ambil foto langsung jepret, jepret, jepret, dan tanpa saya sadari cuaca waktu itu lumayan berawan jadi cahaya berubah tapi saya tidak menyadarinya. Dan karena saya amat sangat jarang melihat layar untuk mengecek hasil foto saya akhirnya waktu sudah di rumah baru kelihatan banyak momen yang bagus tapi hasil fotonya gelap. Sedih rasanya. Tapi ini suatu pelajaran. Pelajaran yang saya dapat adalah : no chimping harus, tapi tetap sesekali luangkan waktu jika ada jeda untuk melihat hasil agar bisa mereview hasil foto. Untuk mereview gunakan histogram sebagai patokan.
  • Pakai Burst. Cocok banget pakai ini dapet banyak momen bagus, peserta jatuh, trick yang berhasil, trick yang gagal, ekspresi, dan lain-lain dapet semua. Saya cocok pakai burst walaupun gak nutup kemungkinan nanti saya juga akan belajar tidak pakai burst. Sesekali bisa dicobalah tanpa burst untuk meningkatkan insting itu tadi.
  • Pakai JPG. Yah karena keteledoran saya banyak foto yang gelap dan karena JPG jadi tidak bisa di edit extreme, naikkin shadow gambarnya udah pecah semua. Tampaknya untuk yang satu ini saya masih lebih srek pakai RAW saja.
  • Pakai Wide Lens. Saya pertama datang ke TKP pakai tele, saya lihat hasilnya biasa, flat, begitu-begitu saja. Saya mencoba lihat-lihat sekitar dan ternyata banyak celah, ada spot-spot bagus yang dekat dengan objek atau ridernya tapi tempatnya tergolong aman akhirnya saya putuskan pakai wide lens. Yang pertama saya rasakan emang bener-benar memberikan suasana fresh. Buat yang belajar sport photography terutama action sport harus banget coba ini. Oh ya lensa yang saya pakai lensa kit, saya pakai FL 18 gak saya ganti-ganti. Catatan untuk pakai wide lens, pastikan spot untuk ambil gambar aman. Jaga keselamatan diri sendiri juga, percuma dapat foto bagus tapi terjadi apa-apa sama kita. Jaga jarak dan hargai panitianya, ikuti rule dari panitia seperti batas jarak terdekat dengan arenanya, karena itu semua demi keselamatan kita juga.

 

Advertisements