Step Belajar Fotografi – Segitiga Eksposure

Setelah memahami komposisi dengan baik, selanjutnya kita belajar mengenai eksposure/exposure. Memahami eksposur sangat penting dalam dunia fotografi, berguna untuk mendapatkan foto seperti yang benar-benar kita inginkan. Kenapa saya bilang penting, padahal di step sebelumnya saya bilang kalau kamera sudah memiliki mode auto yang dapat merumuskan eksposur secara otomatis. Mode auto pada kamera saat ini masih memiliki keterbatasan. Contohnya ketika kita ingin mengambil gambar freeze ternyata gambar tersebut blur karena kurang shutter speed. Untuk itu langsung saja saya jelaskan ketiga komponen tersebut.

Segitiga Eksposur

Dalam fotografi biasa disebut dengan istilah segitiga eksposure, karena menggabungkan antara 3 komponen yaitu ISO, Aperture/Diafragma, dan Shutter Speed. Illustrasinya seperti dibawah ini

Ilustrasi Segitiga Eksposur

Ilustrasi Segitiga Eksposur

Untuk anda pengguna kamera nikon entry level seperti Nikon D3100 atau D5100 anda akan lebih mudah memahaminya karena pada monitor sudah dijelaskan secara detail seperti pada gambar dibawah ini.

Ilustrasi eksposur d3100

Ilustrasi eksposur pada kamera Nikon Entry Level

Shutter Speed

Shutter Speed adalah kecepatan pengambilan gambar. Shutter Speed ini terdengar dari suaranya, biasanya kalau shutter cepat bunyinya jepret langsung, tetapi jika shutter lambat bunyinya jep……pret. Contoh penulisannya adalah 1/200, 1/4000, 1/1″, 1/2″. Maksud dari penulisan tersebut adalah perbandingan kecepatan dalam detik, 1/1″ berarti kecepatan pengambilan gambar adalah 1 detik, sehingga nanti ketika shutter ditekan akan berbunyi jep…kemudian jeda 1 detik…pret. Kecepatan 1/1″ tergolong shutter lambat. Untuk shutter cepat contohnya seperti 1/2000, berarti kecepatan 1/2000 detik, tidak sampai 1 detik.

Kalau diibaratkan pada mata shutter speed ini seperti kelopak mata kita. Jadi berawal dari kita memejamkan mata kemudian kita buka mata dan menutupnya lagi. Kalau kita melakukannya dengan cepat cahaya yang masuk akan semakin sedikit, Kalau lama cahaya yang masuk akan banyak.

Berikut perbandingannya shutter cepat dan lambat:

  • Angka Shutter Speed besar (1/2000, 1/2500, 1/4000)
    • Mengambil foto dengan cepat
    • Objek diam/freeze
    • Mendapat lebih sedikit cahaya
    • Foto lebih tajam karena tidak ada resiko pergerakan kamera
  • Angka Shutter Speed kecil (1/10, 1/1″, 1/2″)
    • Mengambil foto dengan lambat
    • Objek blur
    • Mendapat lebih banyak cahaya
    • Foto lebih blur karena resiko kamera bergerak, untuk itu dibutuhkan tripod

Diafragma / aperture

Diafragma adalah bukaan lensa di mana cahaya masuk. Bukaan tersebut berasal dari pisau-pisau pada lensa yang menutup cahaya, dapat dilihat di ilustrasi di atas. Fungsinya untuk memperbesar atau memperkecil bidang fokus. Contoh penulisannya seperti f2.8, f4.0, f10, dll. Semakin kecil angka bukaan diafragma semakin besar, ketika angka besar bukaan diafragma semakin kecil.

Kalau pernah melihat orang yang memiliki mata minus dan dia tidak pakai kacamata, dia akan menyipitkan matanya agar bisa sedikit menajamkan penglihatannya. Nah, ibaratnya seperti itu, jadi ketika bukaan diafragma kecil (angka besar) maka gambar akan lebih tajam.

Berikut perbandingannya:

  • Bukaan diafragma besar, angka kecil (f1.8, f2.8, f3.5)
    • Area ketajaman gambar kecil, terfokus pada sebagian objek
    • Dapat membuat gambar dengan background blur
    • Cahaya lebih banyak
    • Berguna untuk portrait, agar background blur dan foto terfokus pada objek
  • Bukaan diafragma kecil, angka besar (f10, f22, f32)
    • Area ketajaman gambar besar
    • Dapat membuat gambar dengan background tidak terlalu blur
    • Cahaya lebih sedikit
    • Berguna untuk foto landscape agar semua bagian tajam

 ISO

ISO adalah sensitifitas cahaya pada sensor kamera kita. ISO setiap kamera berbeda-beda, ada yang jumlah dan rentangnya banyak, ada juga yang sedikit. Contoh untuk pengaturan ISO pada kamera pocket, 100, 200, 400, 800, 1600, terkadang ada yang memberi fitur boost ISO hingga 6400. Untuk kamera profesional biasanya memiliki jumlah dan rentang yang lebih banyak, agar pengaturan lebih akurat. Biasanya dimulai dari 50, 100, 150, hingga 6400, dan boost iso hingga 128000 atau bahkan lebih.

Penggunaan ISO yang tinggi berakibat pada gambar yang menjadi kurang tajam dan noise. Untuk beberapa kamera, terutama yang profesional dengan sensor besar, memiliki tingkat noise yang cukup kecil. Tapi jangan takut dengan noise, noise ada di semua kamera, jadi jangan membuat noise membatasi kreatifitasmu. Lagi pula saat ini sudah banyak aplikasi untuk mengurangi noise. Bahkan beberapa orang menganggap noise sebagai salah satu bagian dari seninya fotografi, sama seperti bokeh.

Perbandingan ISO :

  • ISO besar (6400, 3200)
    • Foto lebih terang
    • Muncul noise
    • Foto kurang tajam
  • ISO kecil (50, 100, 200)
    • Foto lebih gelap
    • Noise sedikit
    • Foto lebih tajam

Eskposur meter

Setelah mempelajari semua komponen dari segitiga eksposur kita menuju bagian akhirnya yaitu eksposur meter. Tidak semua kamera memiliki fitur untuk menampilkan eksposur meter, biasanya hanya ada pada kamera DSLR atau Mirrorless. Eksposur meter ini adalah hasil dari penggabungan 3 komponen tadi, jika kita sudah mengatur-atur komponen tadi maka hasilnya akan muncul apakah foto kita sudah cukup terang atau tidak. Jika foto mengarah ke arah + maka foto tersebut sudah terang, tetapi jika mengarah ke arah sebaliknya, yaitu -, maka foto tersebut masih gelap.

Untuk lebih lanjut mengenai eksposur meter kita juga perlu belajar tentang metering yang nanti akan saya jelaskan di step berikutnya.

Tips

Beberapa tips dari saya untuk yang masih sama-sama belajar

  1. Jangan malu menggunakan mode auto. Saya sampai sekarang masih sering menggunakan mode auto, terutama untuk foto suatu event. Karena untuk foto suatu event butuh kecepatan. Coba bayangin lebih malu mana kita gagal dapat foto dengan momen yang pas gara-gara kita bingung atur kamera, sama kita dapet foto dengan momen yang pas tapi pakai mode auto.
  2. Kemudian masih dengan mode auto. Kita dapat menggunakan mode auto sebagai acuan. Misal kita masih bingung untuk memotret pada suatu kondisi, kita bisa memotret dengan mode auto untuk kemudia kita lihat pengaturannya. Sambil kita pelajari kita lihat kekurangannya. Misal jika pada mode auto digunakan diafragma yang terlalu besar kita dapat sesuaikan sendiri untuk mendapat foto yang kita inginkan.
  3. Tips yang terakhir adalah langkah-langkah yang biasa saya lakukan. Tips ini bukan aturan baku kalian bisa mengexplore sendiri sesuai kebutuhan dan kondisi, dan juga kebiasaan.
    1. Pertama, kita lihat kondisi apa yang akan kita foto. Apakah kita akan foto landscape atau portrait. Apakah kita butuh area ketajaman yang besar atau kecil.
    2. Setelah kita mengetahui apa yang akan kita foto kita atur aperture terlebih dahulu, jika kita akan foto landscape kita atur aperture dengan angka besar seperti f14, atau f16. Angka ini yang biasa saya pakai untuk foto landscape. Jika kita ingin portrait dengan background blur bisa kita gunakan aperture dengan angka kecil seperti f1.8 atau f3.2.
    3. Ketika mengatur eksposur kita bisa melakukan tes. Dari hasil tes-tes ini bisa kita gunakan untuk acuan mengatur ISO. Atau jika kita tidak sempat untuk mengatur ISO kita bisa ubah aturan ISO menjadi auto.
    4. Yang terakhir adalah pengaturan shutter speed. Dan jika shutter speed kita kurang sesaui dengan yang kita inginkan kita tinggal kembali ke step sebelumnya yaitu atur ISO.
Advertisements

One thought on “Step Belajar Fotografi – Segitiga Eksposure

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s